Sudah Sampai Manakah Ramadhan Kita?

Sudah Sampai Manakah Ramadhan Kita?

Sudah sampai manakah Ramadhan kita kali ini?

Apakah hanya sekedar menahan lapar dahaga? Lantas kehilangan esensi menahan emosi dan hawa nafsu diri?

Atau sekedar berpeluh dengan shalat yang bertambah rakaat demi rakaat? Namun lupa salah satu esensi shalat adalah untuk melepas perilaku keji?

Atau sekedar unjuk banyak bacaan kitab suci? Namun lagi lupa bahwa bacaan itu salah satu esensinya untuk memperhalus hati?

Sudah sampai manakah Ramadhan kita kali ini?

 

Sudah sampaikah ia sebagai pelebur dosa-dosa diri?

Sudah sampaikah ia sebagai bentuk ketaatan kepada Ilahi?

Sudah sampaikah ia sebagai bentuk pendekatan diri kepada Rabbul Izzati?

Sudah sampaikah ia sebagai bentuk koreksi diri?

 

Sudah sampai manakah Ramadhan kita?

Beberapa kerabat atau teman sejawat mungkin telah berpulang menghadap Ilahi, tepat sejenak sebelum Ramadhan datang. Sehingga tak lagi mampu menikmati sejuta nikmat di dalam bulan penuh hikmat.

Beberapa kerabat atau teman sejawat mungkin tak dikaruniai sehat, sehingga tak mampu shaum dan menikmati indahnya shalat di bulan penuh pahala berlipat.

Sampai manakah Ramadhan kita kali ini? Sudahkah hal tersebut menjadi pengingat, tentang tak boleh lalainya kita di bulan penuh ampunan dan ma’rifat.

 

Yuk… kita sedikit bermuhasabah?

Sudah dimanakah Ramadhan kita?

 

  1. Sudah adakah target-target pencapaian di bulan Ramadhan yang sudah kita TULISKAN?

Ya / belum (bikin poling)

Jika belum, Yuk kita tuliskan. Sebab menurut khalifah Ali bin Abi Thalib, “rencana yang tidak kau tuliskan hanyalah angan-angan belaka?”

Tuliskan setidaknya target : tilawah Al Quran, shalat sunnah, sedekah, bacaan buku dan hal-hal bermanfaat lainnya.

 

Jika sudah, apakah telah tercapai di awal-awal Ramadhan. Tak perlu membuat target yang tidak mampu kita raih. Kerjakanlah amal, meski sedikit-sedikit asalkan kita lakukan secara berkelanjutan.

 

  1. Sudah ber-sahur dan ber-buka dengan benar?

Sudahkah kita mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka?

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : أَحَبُّ عِبَادِي إلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “Hamba yang paling dicintai di sisi-Ku adalah yang menyegerakan waktu berbuka puasa.”

 

Sudahkah kita sahur dan berbuka dengan makanan yang halal dan thayyib?

Tidak hanya makan-makanan yang halal, tetapi juga makanan yang sehat.

Allah memerintahkan kita untuk memakan makanan yang halal dan baik / Halalan Thoyyiban

Al Qur’an, Surat Al Maidah : 88 yang artinya:

“dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya” 

  1. Sudahkah kita larutkan diri kita dengan hal-hal yang penting dan bermanfaat?

الوقت أنفاس لا تعود

Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.

Syaikh ‘Abdul Malik Al Qosim berkata, “Waktu yang sedikit adalah harta berharga bagi seorang muslim di dunia ini. Waktu adalah nafas yang terbatas dan hari-hari yang dapat terhitung.” Waktu ibaratkan pedang, jika ia sudah terhunus, maka ia tak dapat kembali.

 

Dengan demikian, kita mesti mengurutkan prioritas aktivitas kita selama Ramadhan. Mulailah aktivitas-aktivitas yang sangat penting setelah fajr, barulah diikuti aktivitas-aktivitas penting lainnya. Intinya : buatlah skala prioritas.

 

  1. Sudahkan kita mengevaluasi Ramadhan kita tiap harinya?

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

 

Meski sudah menuliskan target-target Ramadhan secara tertulis, sudahkah kita mengevaluasi Ramadhan kita tiap harinya? Sudahkah kita memuhasabah, apakah target kita terpenuhi? Apakah di hari itu ada jiwa-jiwa yang kita lukai? Apakah di hari itu ada perilaku kita yang tak sepantasnya kita lakukan?

 

Sudah sampai manakah Ramadhan kita? Hendaknya pertanyaan itu kita ulang tiap harinya, sebagai bentuk evaluasi diri. Sebagai pengingat, bahwa tiap jengkal yang kita jejak, tiap detik waktu yang berlalu, tiap nafas yang terhembus adalah aktivitas-aktivitas yang bermakna dan berharga.

Sebab kita tidak pernah tahu, akan sampaikah kita hingga hari terakhir Ramadhan. Atau akankah kita bertemu dengan Ramadhan yang akan lagi.

 

Sehingga, lagi dan lagi, teruslah bertanya dalam diri kita : SUDAH SAMPAI MANAKAH RAMADHAN KITA?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *